Walikota Bengkulu Helmi Hasan Imbau PNS Shalat Berjamaah


Masih ingat dengan Walikota yang menjanjikan hadiah mobil innnova kepada warganya yang lakukan shalat berjamaah? Dialah Helmi Hassan, Walikota Bengkulu yang sempat menuai pro dan kontrai karena program “Shalat Jamaah berhadiah Mobil”. Kamis (19/03) adik dari Ketua MPR, Zulkifli Hasan, itu menyambangi kantor Bimas Islam, Kementerian Agama, didampingi sejumlah pejabat dan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bengkulu. Rombongan sejumlah 12 orang itu diterima oleh Sekretaris Ditjen Bimas Islam, Prof. Dr. H. Muhammadiyah Amin, M.Ag dan jajarannya di ruang rapat Ditjen Bimas Islam, Gedung Kementerian Agama Lantai 6, Jakarta Pusat. Kepada Sekretaris Bimas Islam, Helmi mengatakan bahwa hadiah mobil dan umrah itu diberikan kepada warga yang datang pertama pada shalat berjamaah di Masjid sebanyak 40 kali berturut-turut tanpa tertinggal takbiratul ihram. Menurutnya, hal tersebut hanya ditujukan sebagai stimulan, tujuannya adalah agar warga rajin shalat berjamaah di Masjid. Pria kelahiran 29 November 1979 itu mengaku sedih melihat masjid sepi dari jamaah, padahal, katanya, Negara akan dipenuhi keberkahan jika penduduknya rajin beribadah kepada Tuhan. Walikota berdarah Lampung itu mengatakan bahwa tujuan utama dari program shalat berhadiah adalah memberikan penyadaran kepada masyarakat agar lebih dekat kepada Tuhan. Ia sadar program ini menuai kontroversi dan menimbulkan pro dan kontra, terutama berkaitan dengan ketidakmurnian niat seseorang dalam beribadah. Dikatakan Helmi, kesadaran untuk meluruskan niat sebetulnya akan muncul belakangan seiring rajinnya seseorang beribadah. “Ada ilustrasi menarik”, lanjutnya, “kisah seorang pemuda yang mendengar sayembara, ‘siapa yang rajin beribadah akan dinikahkan dengan putri pak kyai’, maka si pemuda ini kemudian rajin beribadah untuk memenangkan sayembara itu. Namun ketika ia terpilih untuk dinikahkan dengan putri tersebut, ia justru menolak dan mengatakan, ‘saya mohon maaf tidak bisa menikahai putri pak Kyai. Awalnya niat saya memang untuk itu, tapi seiring saya rajin beribadah dari waktu ke waktu, tumbuhlah kesadaran dalam diri saya bahwa ibadah mestilah hanya untuk Allah saja, bukan untuk yang lain.’ Sang kyai menjawab: ‘justru karena itu, engkau harus menikahi putriku. Karena aku akan menikahkannya dengan mereka yang ikhlas dalam beribadah.” Ilustrasi inilah, dikatakan Helmi, yang terjadi di Bengkulu menyusul program shalat berhadiah itu. Tidak sedikit, ujarnya, yang menolak hadiah mobil justru setelah rajin beribadah. Helmi menirukan ucapan salah satu warganya yang memenangkan hadiah mobil, “’Demi Allah, saya ini orang miskin dan tidak punya mobil, maka saya berniat ikut sayembara dan menghadiri pengajian setiap Rabu. Namun seiring saya ikuti pengajian, maka munculah kesadaran dalam diri saya bahwa ibadah saya hanya untuk Allah. Mohon maaf hadiah ini tidak saya terima’, demikian juga seterusnya dengan pemenang-pemenang yang lain. Akhirnya mobil pribadi saya itu dipajang untuk generasi berikutnya agar diambil pelajaran.” katanya. Terkait dengan program shalat berhadiah yang diberi nomenklatur ‘Peningkatan Spiritual Keagamaan’ itu, alumni Fakultas Ekonomi Universitas Bengkulu itu juga melakukan koordinasi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengenai anggaran, dengan Kementerian Dalam Negeri mengenai kebijakan, serta dengan Kementerian Agama mengenai sudut pandang agama. Sementara itu, Sekretaris Ditjen Bimas Islam, Prof. Dr. H. Muhammadiyah Amin, MA, mengatakan dirinya mengapresiasi ketulusan dan niat baik walikota itu dalam meningkatkan kehidupan beragama di Bengkulu. Mantan Rektor IAIN Sultan Amai Gorontalo itu mengatakan bahwa secara lisan kebijakan tersebut tidak memiliki masalah, namun demikian untuk jawaban tertulis dirinya akan menyiapkan tim untuk membahasnya secara akademis. “Tidak mustahil, niat baik dan program pak walikota ini justru menjadi pionir sebagai contoh bagi daerah lain” ujarnya.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Komentar